Wednesday, January 20, 2010

Harga Minyak Terus Turun, Baik atau Buruk?


Selain mengamati pergerakan pasar saham yang terus menurun, mata dunia saat ini juga menyoroti terus turunnya harga minyak dunia.
Dalam tiga bulan ini, harga emas hitam itu telah turun hingga 45 persen, dari sekira USD147 per barel pada Juli lalu. Harga minyak sempat menyentuh USD72 per barel pada Rabu 15 Oktober kemarin.
Apakah turunnya harga minyak ini pertanda bagus? Bagi para konsumen tentu iya. Namun bagi negara-negara kaya produsen minyak, tentu sebaliknya. Kalangan analis menyebut, negara-negara produsen telah gagal memprediksi seberapa cepat harga minyak akan turun. Beberapa bulan lalu, bahkan, banyak yang menyebut harga minyak bakal menembus USD200 per barel.
“Analis sangat terkejut dengan volatilitas penurunan harga ini,” kata David Fyfe, analis perminyakan senior untuk International Energy Agency di Paris.
Sejak harga minyak menembus USD100 per barel untuk pertama kalinya awal tahun ini, Amerika -yang mengonsumsi satu-seperempat energi di dunia- mulai melakukan penghematan. Ketika harga bensin dijual di atas USD4 per galon, konsumen Amerika mulai mengurangi konsumsi mereka.
Bagi negara-negara yang kaya minyak, merosotnya harga minyak merupakan kerugian besar. Saat harga minyak mulai melambung, pemerintah dan perusahaan-perusahaan minyak raksasa mengucurkan miliaran dolar untuk mengeksplorasi dan mengembangkan ladang-ladang baru di Rusia, Angola, Meksiko, Brasil, dan Saudi Arabia.
Karena itulah mereka pantas khawatir. Modal dan investasi besar yang sudah dikucurkan, dengan harapan tingginya return dari kenaikan harga minyak, ternyata tak sesuai dengan harapan.
Apalagi, potensi turunnya harga minyak masih akan terus terjadi. Harga si emas hitam bisa terus turun hingga level USD50 per barel, jika pasar kredit masih tetap seret.
“Kami yakin semakin dalamnya krisis sektor perbankan dan perlambatan signifikan dalam pertumbuhan ekonomi global akan semakin memberikan tekanan dan menurunkan harga komoditas,” sebut Deutsche Bank dalam laporan yang dilansir awal pekan ini.
Sementara itu, bank investasi Goldman Sachs memperkirakan harga minyak mentah akan berada di level USD75 pada kuartal keempat dan USD70 pada akhir tahun.
“Bahkan jika krisis keuangan dan ekonomi terus mengganggu permintaan, harga minyak dapat turun lebih rendah mencapai USD50 per barel,” sebut Goldman Sachs. Penentuan angka prediksi itu mempertimbangkan biaya operasional rata-rata perusahaan minyak dunia.
Lain dari pada itu, di negara-negara net importer seperti Indonesia, turunnya harga minyak ini diharapkan berefek pada penurunan harga bahan bakar minyak yang dinaikkan pada Mei lalu.
Langkah menurunkan harga BBM sudah dilakukan Malaysia, merespons semakin rendahnya harga minyak mentah. Namun sayangnya harapan serupa tidak dapat dinikmati di Indonesia hingga akhir tahun ini.
Menurut pemerintah, Indonesian Crude Price (ICP) tidak mungkin berada di bawah USD95 per barel tahun, sehingga harga BBM juga tidak mungkin turun.
“Rata-rata ICP harus USD95 per barel dalam tahun ini dan itu agak sulit dicapai dalam tiga bulan ke depan. Saat ini, harganya saja USD108,72 per barel,” ujar Dirjen Migas Departemen ESDM Evita Legowo, Rabu kemarin.


linkhttp://www.esdm.go.id/berita/40-migas/1951-peranan-lemigas-dalam-mendukung-pengelolaan-migas-nasional.html?tmpl=component&print=1&page =