Wednesday, January 20, 2010

Bencana Minyak di Laut Timor


Zulfikar, 40 tahun, baru pulang melaut, Senin dua pekan lalu. Pria asal Oesapa, Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), itu telah seminggu di atas perahu motor Nirwana-2 bersama delapan temannya. Seperti nelayan tradisional Oesepa lainnya, ia biasa berburu ikan di Laut Timor.Berbeda dari perjalanan yang lalu, kali ini Zulfikar dan kawan-kawan tidak cukup beruntung. Dia terpaksa pulang dengan hasil tangkapan tidak memadai. "Ikan-ikan menghilang. Laut kami dipenuhi minyak," Zulfikar berkeluh kesah. "Ketika kami menyelam, bau minyak sangat terasa dan badan kami menjadi licin," ia menambahkan. Ia juga mengaku melihat banyak ikan mati mengambang.Zulfikar dan ribuan nelayan tradisional NTT lainnya menjadi korban pencemaran laut akibat tumpahan minyak Australia di Laut Timor. Hampir dua bulan sejak 21 Agustus lalu, ribuan barel minyak mentah terus membanjiri kawasan laut itu sebagai buntut meledaknya instalasi pengeboran minyak The Montara Well Head Platform, instalasi pengeboran milik Australia yang berada di Blok West Atlas. Lokasi ladang minyak itu berjarak sekitar 690 kilometer sebelah barat Darwin dan 250 kilometer di barat laut Truscott, Australia Barat.Pasca-ledakan, ladang minyak yang dioperasikan PTT Exploration and Production Australasia (PTTEP), sebuah perusahaan minyak asal Thailand, itu terus memuntahkan sekitar 500.000 liter minyak setiap hari di wilayah perairan Timor. Hingga berita ini ditulis, tumpahannya terus melebar, membentuk kawah yang bibirnya merasuk jauh ke perairan Indonesia.Nelayan lokal mengungkapkan, tumpahan minyak itu kini berada 70 mil dari Kolbano, wilayah pantai selatan Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Menurut gambar udara yang disiarkan stasiun televisi ABC, tumpahan minyak itu mengalir seperti anak sungai dan membuat jalur berkelok-kelok di laut. Tumpahan ini lalu dibawa arus hingga menyebar ke mana-mana.Menurut catatan Departemen Perhubungan (Dephub) yang kapal-kapalnya melakukan patroli di kawasan itu, butiran kecil minyak (small patches weathered oil) telah memasuki wilayah zona ekonomi eksklusif Indonesia pada posisi 110 50-LS, 1250 10-BT, 10 hari setelah ledakan. Sebulan setelah ledakan, pemantau aerial surveillance Dephub mencatat, sebagian tumpahan minyak telah berada pada lokasi 51 mil laut sebelah tenggara Pulau Rote.Ketua Yayasan Peduli Timor Barat, Ferdi Tanoni, khawatir pencemaran minyak itu berdampak buruk pada ekosistem di Laut Timor dalam jangka panjang. Masyarakat yang tinggal di Timor Barat, Rote-Ndao, Sabu, dan Alor bisa kehilangan ikan untuk dikonsumsi karena tercemar minyak. Pasalnya, letak ladang minyak Montara yang sebagian besar sahamnya dimiliki mantan Presiden Thailand, Thaksin Sinawatra, itu lebih dekat dengan gugusan Pulau Pasir, yang menjadi tempat nelayan tradisional Indonesia mencari ikan.Sekretaris Itjen Perhubungan Laut Dephub, Bobby R. Mamahit, mengungkapkan bahwa Australia terikat perjanjian tentang pencegahan dan penanggulangan tumpahan minyak yang ditandatangani pada 3 Oktober 1996. Dalam perjanjian ini disebutkan, negara itu harus melakukan upaya pembersihan bila pengeboran minyaknya di Laut Timor mengalami kecelakaan.Pada saat ini, Ditjen Perhubungan Laut Dephub berkoordinasi dengan Otoritas Keselamatan Maritim Australia (AMSA) dan Kedutaan Besar Australia di Jakarta untuk aksi mitigasi. Aksi pertama Australia adalah melepas tiga kapal oil containment recovery dan menyemprotkan dispersant melalui udara. AMSA setiap hari menerbangkan dua Hercules C-130 yang terbang dari Darwin, Australia Utara, untuk menyemprotkan dispersant ke Laut Timor. Dispersant, yang punya berat jenis tinggi, akan mengikat minyak mentah dan membuatnya tenggelam.Surat yang dilayangkan AMSA menyatakan, tipe dan jenis tumpahan minyak itu tidak akan merusak lingkungan laut Indonesia. Namun kenyataannya tidak demikian. Pantauan lembaga lingkungan Pemerintah Australia sendiri menemukan sejumlah satwa laut --termasuk kura-kura-- yang sakit, bahkan ada satwa laut yang mati.Ferdi Tanoni memasalahkan cara penanganan yang dilakukan Australia. Semprotan dispersant itu punya efek menenggelamkan minyak mentah ke dasar laut. Langkah ini mungkin saja menyelamatkan ikan permukaan dan burung-burung, tapi akan membahayakan ikan dan biota laut yang ada di kedalaman dan terumbu karang. Ilmuwan Australia, Jamie Oliver, menyayangkan langkah itu dan menilainya sebagai pemecahan masalah yang memunculkan masalah baru.Karena itu, Ferdi Tanoni meminta Pemerintah Indonesia tidak meremehkan masalah ini. Sikap serius pemerintah sangat dinanti. "Diplomasinya harus maksimal. Bila mungkin, batalkan seluruh perjanjian RI-Australia yang dibuat di Laut Timor sejak 1971-1997, yang hanya menguntungkan Australia," katanya.Wartawan Gatra di Kupang melaporkan bahwa dampak tumpahan minyak Australia di Laut Timor itu mulai terasa di NTT. Terutama di Pantai Nunkolo dan Kolbano, Kabupaten TTS, dan Pulau Rote, yang berbatasan langsung dengan Australia.Selain menumpuknya ikan yang mati terbawa arus, daun-daun pohon mangrove di sekitar kawasan itu pun mulai mengering. "Semula, kami mengira ada yang menangkap ikan dengan cara membuang potas," kata Paulus Mnane, seorang warga Kolbano.Beberapa warga yang sempat makan ikan yang tercemar mengaku kena diare dan menderita bintik-bintik merah di kulit. Padahal, di pesisir NTT, polutannya tidak kelihatan jelas. Namun bodi perahu para nelayan di Papela, Kecamatan Rote Timur, Kabupaten Rote-Ndao, tampak ditempeli minyak.Pemeritah Provinsi NTT telah membentuk pos komando untuk memantau pencemaran Laut Timor itu. Langkah pertama yang dilakukan adalah memantau biota di garis perbatasan laut. Tim ini melibatkan Dinas Perhubungan, Dinas Perikanan dan Kelautan, serta Pangkalan Utama TNI-AL Kupang."Tim itu sudah menyisir perairan Kolbano dan Nunkolo, Kabupaten TTS, dan perairan Rote yang berbatasan langsung dengan Australia," kata Gubernur NTT, Frans Lebu Raya. Instansi terkait, seperti Dinas Kesehatan, juga diinstruksikan untuk memeriksa warga yang kena penyakit yang diduga sebagai dampak tumpahan minyak itu.Di Australia, masalah ini menjadi tema utama perdebatan di gedung parlemen di Canberra. Juru bicara PTTEP Australasia, Mike Groves, awalnya mengatakan bahwa tumpahan minyak itu hanya sepanjang 15 kilometer dan melebar hingga 30 meter.Namun klaim ini dinilai terlalu mengecilkan. Sebab AMSA mencatat, pada hari ke-10, tumpahan minyak melebar hingga 6.000 kilometer persegi. Senator Rachel Siewart dan Ketua Partai Hijau di parlemen, Senator Bob Brown, meminta PTTEP Australasia secara transparan melaporkan akibatnya dan melakukan langkah-langkah yang cepat.Pakar geologi Andang Bachtiar menyatakan bahwa pencemaran lingkungan tidak terhindarkan, karena ratusan ribu barel minyak menumpahi lautan.Untuk mengatasinya, sumur itu harus dimatikan, yakni menutupnya dengan lumpur atau semen melalui pengeboran samping. Ini bukanlah pekerjaan mudah. Prosesnya butuh waktu setidaknya empat bulan. Bila situasinya lebih sulit, proses ini bisa makan waktu bertahun-tahun.Pemerintah Australia telah menempatkan drilling rig tambahan milik West Triton Australia di dekat Montara Well Head Platform, untuk melakukan pengeboran relief well yang akan memotong original well pada kedalaman 2,6 kilometer di bawah permukaan laut dan melakukan injeksi heavy mud. Aksi ini dimulai pada 14 September dan selesai pada 8 Oktober.

linkhttp://www.gatra.com/2009-10-25/artikel.php?id=131425