Showing posts with label Andeska. Show all posts
Showing posts with label Andeska. Show all posts

Tuesday, December 21, 2010

Indonesia Konsesi Minyak & Gas dan Peta Infrastruktur

PricewaterhouseCoopers Indonesia recently released the Indonesia Oil & Gas Concession and Infrastructure Map. PricewaterhouseCoopers Indonesia baru-baru ini merilis Oil Indonesia & Gas Konsesi dan Peta Infrastruktur.
The map consists of information about 238 Oil & Gas blocks by company operator (including Government's blocks); the company name, location, block name, contract type and operation effective date. Peta tersebut terdiri dari informasi tentang 238 blok Minyak dan Gas oleh operator perusahaan (termasuk blok Pemerintah); nama perusahaan, lokasi, nama blok, tipe kontrak dan tanggal operasi yang efektif. Additional information on major infrastructure across Indonesian territory is also presented on the map. Informasi tambahan pada infrastruktur besar di seluruh wilayah Indonesia juga disajikan pada peta.


2010 2010
Indonesia Minyak dan Gas Bumi dan Prasarana Wilayah peta 2010
2009 2009

Thursday, November 25, 2010

Pertamina temukan 61 Juta barel cadangan minyak baru



Pertamina Eksplorasi dan Produksi (Pertamina EP) berhasil menemukan cadangan minyak baru sebesar 61 juta barel dan gas sebesar 619 miliar kaki kubik sepanjang semester pertama tahun ini. Cadangan tersebut merupakan hasil temuan di 9 dari 12 sumur eksplorasi.
Menurut Vice President of Corporate Communication Pertamina Muchamad Harun, sumur itu berada di wilayah Indramayu, Bekasi, dan Sumatera Selatan. "Ini keberhasilan temuan minyak dan gas Pertamina. Dari 12 sumur yang digali, 9 di antaranya ternyata menghasilkan," katanya.
Keberhasilan temuan cadangan itu sekaligus menaikkan rasio kesuksesan penggalian Pertamina menjadi 75 persen dari sebelumnya 40-50 persen. Penemuan ini melebihi perkiraan jumlah produksi minyak dan gas pada 2010, yang mencapai 46,7 juta barel minyak dan 381 miliar kaki kubik gas. "Prestasi itu menempatkan Pertamina menjadi produsen kedua minyak dan gas terbesar kedua di Indonesia," ujar Harun.
Sepanjang 2010, kata Harun, Pertamina EP sangat agresif melakukan eksplorasi minyak dan gas. Tahun ini Pertamina menargetkan pengeboran 26 sumur eksplorasi di berbagai daerah, yang terdiri atas 14 sumur taruhan (wildcat), 14 sumur deliniasi (daerah resapan), dan 1 sumur re-entry. Adapun untuk kegiatan survei, Pertamina menargetkan survei eksplorasi 712 kilometer (seismic 2D) dan 1.345 kilometer (seismic 3D).
Dengan demikian, hingga semester pertama 2010, produksi minyak Pertamina menyentuh level 130,4 ribu barel per hari, meningkat dari pencapaian Pertamina tahun lalu yang mencapai 127,1 ribu barel per hari. Kenaikan juga terjadi dalam produksi gas di posisi 1.050 miliar kaki kubik per hari, naik tipis dibandingkan dengan produksi tahun lalu sebesar 1.043 miliar kaki kubik per hari.


























Saturday, November 20, 2010

Juli 2010, Produksi Minyak CPI Anjlok



Penghentian operasi tanpa direncanakan di Blok Rokan yang    dikelola Chevron Pacific Indonesia (CPI) selama 3 hari memicu anjloknya produksi minyak periode Juli 2010.
Presiden Direktur Chevron Pacific Indonesia  (CPI) A. Hamid Batubara mengatakan memasuki pekan terakhir Juli 2010, CPI memang mengalami penurunan produksi minyak untuk beberapa hari sebagai dampak dari pemadaman sumur-sumur produksi di Lapangan Minyak Sumatera.
Pemadaman sumur-sumur tersebut dilakukan, ujarnya, untuk mengatasi gangguan yang terjadi secara berurutan pada 22 Juli hingga 24 Juli di fasilitas pengolahan minyak Duri dan Minas.
“Setelah melalui proses pemeriksaan secara menyeluruh, ditemukan beberapa titik pada sambungan pipa dan saluran suar bakar gas yang memerlukan perbaikan untuk memulihkan integritas proses pada kondisi semula,” ungkapnya seperti dikutip bisnis.com, Minggu (8/8/2010).
Proses perbaikan, katanya, dapat diselesaikan dengan segera sehingga pada 25 Juli fasilitas produksi sudah dapat berfungsi secara normal. “Penurunan produksi yang terjadi selama 3 hari ini tidak berdampak besar terhadap kemampuan produksi CPI. Berdasarkan kinerja produksi saat ini, CPI akan tetap dapat mencapai target produksi untuk 2010 sesuai revisi Rencana Kerja Anggaran.” 
Eksekutif industri migas yang mengetahui tentang informasi tersebut menyebutkan pada Juni rata-rata produksi minyak mentah dan kondensat bulanan sempat menyentuh titik tertinggi, yaitu sebanyak 965.449 bph.
“Namun, tingkat produksi kemudian anjlok pada periode Juli menjadi sekitar 944.000 bph," tuturnya hari ini.
Menurut dia, penurunan tajam produksi bulanan itu utamanya terjadi karena penurunan produksi dari Blok Rokan. Dia mengungkapkan pada periode sebelumnya produksi CPI dari blok tersebut secara konsisten di level sekitar 373.000 bph.
Produksi CPI  tersebut sebenarnya masih lebih tinggi dari target internal perusahaan untuk memproduksi minyak rata-rata 336.700 bph tahun ini. Namun, jika dibandingkan dengan target yang disepakati antara CPI dan BP Migas yang sebesar 367.500 bph, rata-rata produksi pada Juli tersebut selisih negatif 4.500 bph.

Thursday, November 18, 2010

Isu Terkini (Current Issues)

Chevron Keduk Minyak Riau 11 Miliar Barel

MINAS, PEKANBARU
PT Chevron Pacific Indonesia (CPI) telah memproduksi minyak mentah sebanyak 11 miliar barel dari wilayah operasi di ladang Blok Rokan, Siak, dan Langgak, Provinsi Riau dalam kurun waktu 56 tahun.Direktur Utama CPI Suwito Anggoro mengatakan, pencapaian produksi itu merupakan bentuk dedikasi perusahaan migas asal Amerika Serikat itu kepada bangsa Indonesia. Selain itu, produksi minyak tersebut menunjukkan kemitraan yang baik antara CPI dan pemerintah Indonesia.
“Pencapaian produksi 11 miliar barel ini merupakan yang pertama bagi unit bisnis operasi Chevron di seluruh dunia,” ujar Suwito  dalam acara Peringatan Pencapaian Produksi Kumulatif Minyak Mentah 11 Miliar Barel oleh CPI di Minas, Pekanbaru, Riau, Selasa (17/2).
CPI memulai eksploitasi minyak di Sumatera pada awal 1950 menyusul penemuan lapangan Duri pada 1941 dan lapangan Minas pada 1944. Produksi pertama minyak CPI di Riau pada 1952.
Direktur Center for Petroleum and Energy Economies Studies (CPEES) Kurtubi mengungkapkan, pendapatan dari produksi minyak Chevron di Indonesia merupakan yang terbesar dibandingkan lapangan minyak Chevron di negara lain. Namun, sulit untuk menghitung secara pasti pendapatan Chevron dari produksi minyak tersebut. Pasalnya, Chevron telah melewati beberapa kali perubahan harga minyak dunia yang signifikan, sehingga pendapatan Chevron pun berfluktuasi dari tahun ke tahun.
Sebelum 1973, harga minyak dunia sempat menyentuh sekitar US$ 2 barel, tahun 1980 harga minyak dunia naik di kisaran US$ 35 per barel, tahun 1986 turun lagi menjadi US$ 10 per barel. Harga minyak dunia baru menyentuh harga tertinggi pada Mei tahun lalu sekitar US$ 146 per barel, sebelumnya akhirnya turun kembali di kisaran US$ 40 – 50 per barel.
“Pendapatan Chevron tersebut ditunjang oleh produksi minyak dalam jumlah besar dari lapangan Minas tersebut. Chevron tetap meraup untung besar dari produksi itu, dan menyumbang pendapatan negara secara signifikan,” ujarnya kepada Investor Daily, di Jakarta, semalam.
Bila rata-rata harga minyak mentah dunia dari 1952-2008 sekitar US$ 20 per barel, CPI meraup duit dari minyak mentah Riau sebanyak US$ 220 miliar. Bila kurs mata uang rupiah terhadap dolar AS pada periode tersebut berkisar Rp 1.000,  duit hasil penjualan minyak CPI mencapai Rp 220 triliun.
Komitmen
Suwito menegaskan, pihaknya berkomitmen terus memperpanjang usia produksi lapangan-lapangan minyak di Sumatera yang selama ini telah berproduksi hingga 50 tahun lebih.  Komitmen tersebut akan direalisasikan dengan terus menerapkan teknologi terbaru dan mutakhir guna meningkatkan kemampuan recovery dari potensi sumber daya minyak yang ada.
Ia juga mengatakan, lapangan CPI di Sumatera yang sebagian besar berada di Duri, Riau menyumbangkan hampir separuh dari produksi minyak mentah nasional. Lapangan produksi di Duri Riau merupakan salah satu diantara lokasi pengembangan injeksi uap (steam flood) terbesar di dunia.
Kepala Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan  Gas Bumi (BP Migas) Raden Priyono mengatakan, produksi minyak CPI pada 12 Februari 2009 mencapai 393.083 bph atau lebih tinggi dari target yang ditetapkan pemerintah, yaitu 380.330 bph. Sementara itu, pencapaian produksi minyak rata-rata CPI pada 2008 sekitar 407.466 bph
Priyono mengakui, target produksi CPI turun dibanding tahun lalu. Penurunan produksi terjadi karena sebagian besar lapangan-lapangan yang telah dioperasikan oleh CPI adalah lapangan-lapangan tua, di antaranya diklasifikasikan sebagai idle field.
“Kami dan CPI berupaya mengoptimalkan lapangan-lapangan tersebut melalui berbagai usaha yang bersifat teknis seperti, infill drilling, optimasi lapangan, perawatan fasilitas produksi maupun mencaari cadangan-cadangan migas baru,” ujarnya.
Gubernur Riau Rusli Zainal  mengatakan, teknologi injeksi uap yang digunakan oleh CPI menjadikan CPI sebagai kiblat dunia dalam pengelolaan ladang minyak. Penggunaan teknologi injeksi uap, lanjut gubernur, dapat mempertahankan penurunan produksi dari sumur-sumur tua pada level 400-an ribu bph atau 40% dari produksi nasional.

Sebagai orang dibidang perminyakan maka masalah lumpur di Sidoardjo sangat erat kaitannya dengan kegiatan pemboran di sumur Banjar Panji-1 (BP-1) oleh Lapindo yang bertindak sebagai penanggung jawab operasi. Cara penanganan masalah pemboran seperti; pada saat kehilangan lumpur (loss sirculation), prediksi akan terjadi loss pun sudah diketahui, adanya sumber tekanan yang lebih tinggi dari gradient tekanan normal pun telah diprediksi (dalam ilmu perminyakan gradient tekanan normal adalah 0.433 psi/foot), rencana pemasangan casing pada program yang tidak sesuai program, banyak kaidah-kaidah dasar dari pelaksanaan pemboran tidak dilakukan dengan benar. Bisa saja ini akibat dari cara manajemen yang kurang baik dalam berkomunikasi ataupun interest internal. Orang awam tentunya sangat terbatas dalam informasi hal-hal tersebut.
Teori – teori geologi diperlukan didunia perminyakan, namun orang awam perlu mengetahui bahwa teori itu baru dikatakan tepat bila ada pembuktian dengan aktifitas pemboran dan pencatatan – pencatatan mengenai sifat – sifat batuan (terhadap listrik, radioaktif, suara, porositas dll) tebal lapisan, kemampuan lapisan melalukan fluida, pengukuran tekanan, laju aliran, dll. Sebagai ilustrasi, pemboran sumur explorasi tentunya dibor karena mencari minyak atau/dan gas, cerita adanya hidrokarbon disitu datang dari mereka yang berprofesi sebagai geologist berdasarkan teori-teori migrasi, endapan dll, juga dari interpretasi rekaman seismik, apa ada isi hidrokarbon? perlu dibuktikan dengan pemboran. Dalam banyak hal interpretasi dan teori-teori yang digunakan tidak tepat, sukses rasio keberhasilan sumur eksplorasi 10- 35% Jadi cerita teori-teori geologi itu belum tentu benar. Janganlah teori-teori itu dipakai sebagai dasar pembenaran dari kegiatan pemboran perminyakan.
Laju aliran yang diketahui oleh kita semua dari mass media adalah sekitar 100 – 150 ribu meter kubik perhari, berapa besar itu? Volume itu kurang lebih sama dengan produksi minyak mentah seluruh Indonesia ~ 900 ribu barrel perhari, jika dibuang di Sidoardjo-Porong. Aliran ini bisa berhanti bila sumber tekanannya mengecil, ataupun fluida yang diangkat menjadi kental, lebih berat, membeku, atau friksi didalam lubang bertambah besar. Usaha menyumbat dari permukaan pada saluran yang ada sangat sulit karena fluida akan mengalir kebagian yang lebih lemah disekelilingnya. Diluar casing sumur BP-1 telah berkomunikasi dengan tekanan yang tinggi dari akibat saluran pemboran yang tidak dipasang casing.
Karena kita telah tau semua bagaimana dampak dari luapan lumpur yang begitu luar biasa mensengsarakan rakyat dan merosotnya pereokonomian masyarakat disekitar wilayah Jatim, maka sepatutnya Lapindo (Bakri Group), dan Pemerintah berusaha kuat mencari solusinya. Ajaklah komponen para ahli perminyakan, pemboran, geologi dunia secara independen mengevaluasi dan memberi solusi untuk mengatasi luapan lumpur.
Jangan lagi para pemimpin dari presiden sampai lurah , elit politik DPR pimpinan partai, penguasa negeri ini menikmati segala kekayaan, kekuasaan dengan cara memperbodoh bangsanya sendiri. Sangatlah tidak etis bagi para profesional kita bila kita hanya berdiam diri melihat kesengsaraan orang lain akibat ulah kita yang mengalihkan tanggung jawab dengan mengatakan ini akibat alam.
Pernyataan kata terakhir dari kalimat terakhir ini akan fatal bagi dunia perminyakan di Indonesia, masyarakat tidak mudah memberi ijin bila disekitarnya akan ada eksplorasi minyak dan gas. Sekali lagi ini karena kita suka sekali memperbodoh bangsa ini, karena kita tidak mau mengatakan yang sebenarnya. Tidak heran kalau bangsa ini terus menerus dilecehkan bangsa lain.
Masyarakat disekitar daerah operasi Lapindo tentu tau ada sumur-sumur minyak dan gas yang telah berproduksi, dan juga sumur-sumur lama yang pernah dibor dekat ke sumur BP-1 Sebenarnya bila pemerintah kita, dalam hal ini kewenangan menteri ESDM, dan Kepala BPMIGAS tentunya bisa meminta Operator perminyakan disekitar sumur BP-1 agar menggunakan sumurnya sebagai sumur pemantau (observasi). Perubahan tekanan pada beberapa lapisan yang dicurigai dapat melalukan fluida supaya dipantau. Dari pemantauan ini diharapkan akan timbul inovasi cara mengatasi aliran lumpur tersebut pada sumbernya. Data besar tekanan didalam bumi sangat bermanfaat untuk mengatasi permasalahan sumur. Biaya untuk memantau dari sumur-sumur disekitarnya tentu tidak semahal membuat sumur.
Sidoarjo- Untuk menjawab keraguan warga korban terdampak lumpur Sidoarjo terkait Relokasi belum tahunya bentuk dan tempat relokasi, MLJ (Minarak Lapindo Jaya) akan mengajak semua pihak mengobservasi ke daerah yang akan digunakan untuk Relokasi pada tanggal Dua Desember nanti
“ kita akan menyediakan bebrapa bus bagi siapa saja yang ingin melihat lokasi Kahuripan Nirwana Vilage (KNV),” terang Vice Presiden MLJ, Andi darusallam Tabusala, waktu lalu saat jumpa pers di Juanda, Sidoarjo.
KNV merupakan bentuk Relokasi yang ditawarkan oleh MLJ untuk warga terdampak lumpur namun tawaran ini bukan hanya untuk warga korban Lumpur namun bagi seluruh warga yang tertarik untuk menempati daerah ini.
“ kita seperti Developer lainnya, kita gunakan system jual beli, tapi warga korban lumpur diprioritaskan,” terang Andi.
Adanya tawaran ini memunculkan respon yang beragam dari warga seperti Asrori warga Kedung Bendo yang masih belum bisa menentukan setuju tidaknya relokasi karena belum mengetahui bentuk dan tempatnya.
“ jika cocok saya akan ambil,” terangnya. Terkait adanya Observasi Asrori sangat setuju dan antusias akan ikut Rombongan yang akan menuju ke Sukodono tersebut.
“ Meski bentuk belum ada yang penting tempatnya strategis nggak,” tambahnya.
Sedangkan Maket KNV yang nantinya digunakan untuk rumah contoh agar warga tahu bagaimana bentuknya akan di launching pada pertengahan Desember nanti.
BANYAK KECAMAN, CEMOOHAN, CACIAN DAN SEMUANE TAPI KITA HARUS BERSIKAP LEBIH DEWASA UNTUK MENCARI JALAN KELUARNYA, KITA JUGA HARUS MENGHARGAI SEMUA YANG TELAH BERUPAYA UNTUK MENANGGULANGI SEMBURAN LUMPUR, MEMANG DAMPAK YANG DITIMBULKAN SANGAT MEMPRIHATINKAN, TAPI APA KITA HANYA BISA MENCACI, MENCEMOOH, MENGECAM, SEHARUSNYA KITA JUGA HARUS IKUT PRIHATIN DENGAN SEGALA KEADAAN YANG ADA.
AMBILAH HIKMAH DARI SEMUA YANG TERJADI, KAMI PERCAYA DIBALIK ITU ADA HIKMAH YANG TERSEMBUNYI DARI KEKUASAAN TUHAN.
KAMI HANYA BISA IKUT PRIHATIN DAN BERDOA SEMOGA PENDERITAAN YANG DIALAMI OLEH SAUDARAKU SEGERA DAPAT DISELESAIKAN OLEH PIHAK-PIHAK YANG BERKOMPETEN, DAN DIBERIKAN KESABARAN DENGAN SEGALA KEKURANGANNYA.
LIHATLAH KEDEPAN SAUDARAKU, WALAUPUN DIRASA SANGAT MENYEDIHKAN AMIN

SEJARAH PERKEMBANGAN INDUSTRI MIGAS iNDONESIA


Minyak bumi mulai dikenal oleh bangsa Indonesia mulai abad pertengahan. Orang Aceh menggunakan minyak bumi untuk menyalakan bola api saat memerangi armada Portugis. Perkembangan migas secara modern di Indonesia dimulai saat dilakukan pengeboran pertama pada tahun 1871, yaitu di desa Maja, Majalengka, Jawa Barat, oleh pengusaha belanda bernama Jan Reerink. Akan tetapi hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkandan akhirnya ditutup.
Penemuan sumber minyak yang pertama di Indonesia terjadi pada tahun 1883 yaitu lapangan minyak Telaga Tiga dan Telaga Said di dekat Pangkalan Brandan oleh seorang Belanda bernama A.G. Zeijlker. Penemuan ini kemudian disusul oleh penemuan lain yaitu di Pangkalan Brandan dan Telaga Tunggal. Penemuan lapangan Telaga Said oleh Zeijlker menjadi modal pertama suatu perusahaan minyak yang kini dikenal sebagai Shell. Pada waktu yang bersamaan, juga ditemukan lapangan minyak Ledok di Cepu, Jawa Tengah, Minyak Hitam di dekat Muara Enim, Sumatera Selatan, dan Riam Kiwa di daerah Sanga-Sanga, Kalimantan.
Menjelang akhir abad ke 19 terdapat 18 prusahaan asing yang beroperasi di Indonesia. Pada tahun 1902 didirikan perusahaan yang bernama Koninklijke Petroleum Maatschappij yang kemudian dengan Shell Transport Trading Company melebur menjadi satu bernama The Asiatic Petroleum Company atau Shell Petroleum Company. Pada tahun 1907 berdirilah Shell Group yang terdiri atas B.P.M., yaitu Bataafsche Petroleum Maatschappij dan Anglo Saxon. Pada waktu itu di Jawa timur juga terdapat suatu perusahaan yaitu Dordtsche Petroleum Maatschappij namun kemudian diambil alih oleh B.P.M.
Pada tahun 1912, perusahaan minyak Amerika mulai masuk ke Indonesia. Pertama kali dibentuk perusahaan N.V. Standard Vacuum Petroleum Maatschappij atau disingkat SVPM. Perusahaan ini mempunyai cabang di Sumatera Selatan dengan nama N.V.N.K.P.M (Nederlandsche Koloniale Petroleum Maatschappij) yang sesudah perang kemerdekaan berubah menjadi P.T. Stanvac Indonesia. Perusahaan ini menemukan lapangan Pendopo pada tahun 1921 yang merupakan lapangan terbesar di Indonesia pada jaman itu.
Untuk menandingi perusahaan Amerika, pemerintah Belanda mendirikan perusahaan gabungan antara pemerintah dengan B.P.M. yaitu Nederlandsch Indische Aardolie Maatschappij. Dalam perkembangan berikutnya setelah perang dunia ke-2, perusahaan ini berubah menjadi P.T. Permindo dan pada tahun 1968 menjadi P.T. Pertamina.
Pada tahun 1920 masuk dua perusahaan Amerika baru yaitu Standard Oil of California dan Texaco. Kemudian, pada tahun 1930 dua perusahaan ini membentuk N.V.N.P.P.M (Nederlandsche Pasific Petroleum Mij) dan menjelma menjadi P.T. Caltex Pasific Indonesia, sekarang P.T. Chevron Pasific Indonesia. Perusahaan ini mengadakan eksplorasi besar-besaran di Sumatera bagian tengah dan pada tahun 1940 menemukan lapangan Sebangga disusul pada tahun berikutnya 1941 menemukan lapangan Duri. Di daerah konsesi perusahaan ini, pada tahun 1944 tentara Jepang menemukan lapangan raksasa Minas yang kemudian dibor kembali oleh Caltex pada tahun 1950.
Pada tahun 1935 untuk mengeksplorasi minyak bumi di daerah Irian Jaya dibentuk perusahaan gabungan antara B.P.M., N.P.P.M., dan N.K.P.M. yang bernama N.N.G.P.M. (Nederlandsche Nieuw Guinea Petroleum Mij) dengan hak eksplorasi selama 25 tahun. Hasilnya pada tahun 1938 berhasil ditemukan lapangan minyak Klamono dan disusul dengan lapangan Wasian, Mogoi, dan Sele. Namun, karena hasilnya dianggap tidak berarti akhirnya diseraterimakan kepada perusahaan SPCO dan kemudian diambil alih oleh Pertamina tahun 1965.
Setelah perang kemerdekaan di era revolusi fisik tahun 1945-1950 terjadi pengambilalihan semua instalasi minyak oleh pemerintah Republik Indonesia. Pada tahun 1945 didirikan P.T. Minyak Nasional Rakyat yang pada tahun 1954 menjadi perusahaan Tambang Minyak Sumatera Utara. Pada tahun 1957 didirikan P.T. Permina oleh Kolonel Ibnu Sutowo yang kemudian menjadi P.N. Permina pada tahun 1960. Pada tahun 1959, N.I.A.M. menjelma menjadi P.T. Permindo yang kemudian pada tahun 1961 berubah lagi menjadi P.N. Pertamin. Pada waktu itu juga telah berdiri di Jawa Tengah dan Jawa Timur P.T.M.R.I (Perusahaan Tambang Minyak Republik Indonesia) yang menjadi P.N. Permigan dan setelah tahun1965 diambil alih oleh P.N. Permina.
Pada tahun 1961 sistem konsesi perusahaan asing dihapuskan diganti dengan sistem kontrak karya. Tahun 1964 perusahaan SPCO diserahkan kepada P.M. Permina. Tahun 1965 menjadi momen penting karena menjadi sejarah baru dalam perkembangan industri perminyakan Indonesia dengan dibelinya seluruh kekayaan B.P.M. – Shell Indonesia oleh P.N. Permina. Pada tahun itu diterapkan kontrak bagi hasil (production sharing) yang menyatakan bahwa seluruh wilayah Indonesia merupakan daerah konsesi P.N. Permina dan P.N. Pertamin. Perusahaan asing hanya bisa bergerak sebagai kontraktor dengan hasil produksi minyak dibagikan bukan lagi membayar royalty.
Sejak tahun 1967 eksplorasi besar-besaran dilakukan baik di darat maupun di laut oleh P.N. Pertamin dan P.N. Permina bersama dengan kontraktor asing. Tahun 1968 P.N. Pertamin dan P.N. Permina digabung menjadi P.N. Pertamina dan menjadi satu-satunya perusahaan minyak nasional. Di tahun 1969 ditemukan lapangan minyak lepas pantai yang diberi nama lapangan Arjuna di dekat Pemanukan, Jabar. Tidak lama setelah itu ditemukan lapangan minyak Jatibarang oleh Pertamina. Kini perusahaan minyak kebanggaan kita ini tengah berbenah diri menuju perusahaan bertaraf internasional.