Monday, March 21, 2011

Stage Methods of Oil Recovery


Dalam memproduksi fluida hidrokarbon dari reservoir biasanya melalui  tahap-tahap yang dilakukan untuk dapat memperoleh produksi yng maksimal.  Produksi tersebut biasanya memiliki dua tahap yang sangat bergantung pada  energi pendorong alamiah yang dominan terjadi secara gabungan didalam reservoir, yaitu Conventional Oil Recovery dan Enhanced Oil  recovery (EOR). Conventional recovery kemudian disebut sebagai primary recovery. Dan tahap-tahap EOR meliputi secondary recovery dan tertiary recovery.
P­enurunan produksi dari tahap primary recovery, dari garis A dan B terjadi akibat pengaruh penurunan energi pendorong alamiah dari reservoir. Garis yang menghubungkan B dan C adalah baseline dari primary  recovery. Baseline ini sangat penting untuk mempertimbangkan kenaikan perolehan minyak masa depan dari tahap secondary. Peningkatan dari laju alir produksi dari B ke D adalah hasil dari proyek  secondary. Pada tahap ini produksi juga akan menurun dari E dan F. Daerah antara kedua garis D-F dan B-C adalah peningkatan perolehan minyak dari secondary recovery. Garis titik-titik dari E ke G adalah baseline untuk masa depan tertiary recovery. Pada saat proses tertiary dimulai, produksi minyak meningkat dari E ke G, yang merupakan laju alir mula-mula dari tertiary recovery.
 

selanjutnya download disini...

Perkiraan Jumlah Cadangan Gas


Beberapa parameter yang berhubungan dengan perkiraan cadangan gas :
1.    Initial Gas In Place, yaitu jumlah total hidrokarbon gas yang mula-mula ada dalam reservoir, baik yang bisa diproduksikan maupun tidak.
2.    Recoverable Reserve, yaitu jumlah hidrokarbon gas yang dapat diproduksikan sampai batas ekonominya.
3.    Ultimate Recovery, yaitu jumlah hidrokarbon gas yang secara maksimum dapat diproduksikan.
4.    Recovery Factor, yaitu angka perbandingan antara gas yang dapat diproduksikan dengan jumlah total gas mula-mula.


selanjutnya download disini...

Penggunaan Teknologi Vibroseismic dalam Peningkatan Perolehan Minyak

Suatu reservoir minyak akan menurun kemampuannya dalam berproduksi akibat terbatasnya tekanan alamiah reservoir dan kehilangan tekanan selama proses produksi berlangsung. Pada saat produksi berlangsung, tekanan reservoir akan terus menurun sehingga laju produksi yang dihasilkan pada proses produksi tahap pertama (primary recovery) akan semakin kecil dan cenderung menjadi tidak menguntungkan lagi.  Jumlah minyak yang dapat diproduksi pada tahap pertama berkisar antara 10 % sampai dengan 30 % dari jumlah total minyak awal yang terdapat di dalam reservoir. Oleh karena itu jumlah minyak yang masih tersisa dalam reservoir setelah produksi tahap pertama tersebut masih sangat besar.
Proses perolehan minyak tahap pertama merupakan proses perolehan dengan menggunakan tenaga pendorong alami, seperti tenaga pendorong gas terlarut (solution gas drive), tenaga pendorong air (water drive), dan tenaga pendorong tudung gas (gas cap drive). Mengingat masih cukup besarnya minyak yang tersisa setelah produksi tahap pertama, maka untuk mengatasi hal tersebut diupayakan suatu usaha untuk meningkatkan perolehan minyak. Metode peningkatan perolehan minyak tahap lanjut ini dikenal dengan metode peningkatan perolehan tahap kedua (secondary recovery) dan metode peningkatan perolehan tahap ketiga (tertiary recovery). Metode perolehan minyak tahap kedua mengacu pada teknik yang bertujuan untuk mempertahankan tekanan reservoir, seperti injeksi air atau injeksi gas. Sedangkan metode peningkatan perolehan minyak tahap ketiga  mengacu pada semua teknik yang diaplikasikan sesudah teknik perolehan tahap kedua.Teknik perolehan minyak tahap kedua dan tahap ketiga biasa dikenal dengan teknik peningkatan perolehan minyak (enhanced oil recovery – EOR). Secara umum EOR didefinisikan sebagai teknik peningkatan perolehan minyak dengan melakukan injeksi material, yang secara normal material tersebut tidak berada di reservoir. Definisi EOR tersebut mencakup semua jenis proses perolehan minyak (drive, push-pull, dan well treatment) dan melingkupi berbagai teknik peningkatan perolehan dengan menggunakan bahan kimia (chemicals agent).
Dari berbagai kajian teoritis, eksperimen di laboratorium, dan lapangan dewasa ini, maka diperkenalkan suatu metode EOR yang baru yaitu vibroseismik (VibroSeismic Impact Technology – VSIT). Pada prinsipnya, metode ini menerapkan stimulasi gelombang elastik ke dalam reservoir dengan menggunakan vibrator dari permukaan. Vibroseismik bukan merupakan pengganti metode EOR konvensional, tetapi dapat digunakan sebagai alternatif atau sebagai alat pelengkap agar metode yang telah ada menjadi lebih efektif dan optimal. Vibrasi seismik, berdasarkan eksperimen lapangan, telah digunakan untuk mendapatkan peningkatan perolehan yang cukup sukses di lapangan minyak Negara Rusia. Berdasarkan eksperimen laboratorium vibrasi seismik dapat memperbesar pori batuan pada kasus tertentu, menurunkan viskositas, meningkatkan permeabilitas, menurunkan tegangan permukaan, dan mengubah komposisi fluida yang ada. Mengacu pada hal tersebut, maka vibrasi seismik ternyata dapat memperbaiki mobilitas minyak. Keunggulan teknologi vibroseismik dibanding teknologi lainnya adalah biaya operasinya yang relatif murah dan tidak merusak lingkungan.
Teknologi eksploitasi baru dari Rusia untuk meremajakan lapangan tua marginal (kurang ekonomis) yaitu teknologi yang menggunakan vibroseis truk dengan roda setinggi manusia dewasa itu menurunkan pelat besi di perutnya dan beratnya bisa mencapai 27 ton. Perlahan pelat baja berukuran 1 x 1,5 meter itu mulai bergetar dan memukul tanah di bawahnya dengan irama tetap. Getaran seismik yang mencapai kedalaman ratusan meter tersebut bisa membangunkan ladang-ladang minyak tua kembali berproduksi.
Sepintas teknik vibroseismik ini terlihat amat mudah. Cuma getarkan, tunggu sebulan, minyak pun menyembur. Tapi, sesungguhnya tak sesederhana itu karena untuk menentukan lokasi penggetaran saja tidak asal-asalan. Ada perhitungan yang harus dilakukan dan perlu teknik monitoring untuk memperkirakan di mana letak yang baik.
Setelah menentukan beberapa titik lokasi yang harus digetar, truk pun mulai beraksi. Untuk satu titik, truk itu bisa bergetar 3 – 6 jam sehari. Keesokannya, truk pindah ke titik lain atau tetap pada titik yang sama sesuai dengan kondisi ladang minyak. Kegiatan ini bisa berlangsung 1 – 3 bulan. Reaksi getaran itu bisa langsung dirasakan dengan peningkatan produksi minyak sepekan setelah digetarkan. Namun, ada pula yang responsnya baru terlihat pada enam bulan pasca penggetaran. Dalam beberapa kasus, lapangan tetangga yang berjarak beberapa kilometer juga ikut “bangun”. Kenaikan Recovery Factor yang diperoleh dari tiap – tiap sumur bervariasi, ada yang 10% sampai 70%. Kadar minyak juga bisa meningkat, ada satu lapangan minyak dari 10% menjadi 90%.
Suatu studi laboratorium yang dilakukan oleh Tutuka Ariadji, dkk di laboratorium ITB, vibrasi menyebabkan peningkatan harga porositas efektif  batuan sebesar 1% sampai 10% dari harga porositas sebelum vibrasi. Adanya pengaruh dari penggetaran (frekuensi dan amplitudo) terhadap Saturasi Minyak Sisa (Sor) yaitu dapat  menurunkan Sor sampai 55 %, menaikkan Permeabilitas Relatif Minyak (kro) sampai 73 %, menaikkan Permeabilitas Relatif Air (krw) sampai 76% dari harga awalnya. Pada umumnya, kenaikan krw lebih tinggi dari pada kenaikan kro atau terjadi kenaikan kadar air untuk frekwensi 10 Hz.
Mekanisme vibroseismik dalam peningkatan perolehan minyak dan gas memiliki dampak pada dua segi, yaitu segi batuan dan fluida yang terdapat di dalam batuan tersebut. Dari segi fluida, getaran yang diberikan akan menambah energi yang nantinya akan mengurangi tekanan kapiler, sekaligus tegangan permukaan. Pada beberapa percobaan yang dilakukan, terdapat juga perubahan viskositas fluida setelah diberi efek getaran. Dari segi batuan, pemberian getaran ini akan memperbesar nilai porositas dan permeabilitas batuan tersebut. Besar kandungan clay juga merupakan faktor yang mempengaruhi hal tersebut.
Meski demikian, tidak semua lapangan minyak cocok menggunakan teknologi ini. Hanya lapangan minyak di darat atau dekat pantai dan memiliki 20° – 38° API. Sifat geologi juga mempengaruhi efektivitasnya. Batuan pasir (sandstone) lebih ramah dibanding gambut atau batu bara, karena lapisan gambut dan batubara meredam frekuensi dan amplitude yang dihantarkan dari vibroseis truk.
Teknik vibrasi ini sebetulnya bekerja dengan cara menghilangkan gesekan atau tegangan permukaan antara minyak dan batuan di sekitarnya. Sebagai contoh, permukaan air yang bisa bergerak sampai ke mulut botol bila diberi getaran. Tegangan permukaan air dengan dinding botol hilang sehingga air bisa tumpah keluar.
Teknik ini paling ekonomis dan effisien dibanding teknik Enhanced Oil Recovery (EOR) yang ada karena tidak memerlukan infrastruktur baru dan tidak perlu penambahan sumur pemboran yang baru dan dapat juga diterapkan dengan metode EOR yang lain secara bersamaan. Teknologi menginjeksikan air ke dalam sumur untuk mendorong minyak keluar selain tidak ekonomis untuk lapangan kecil, juga perlu filter yang mahal. Sedangkan injeksi uap panas bisa mengakibatkan minyak justru meleleh. Selain dari pada itu, teknologi vibroseismik ini merupakan metode yang paling ramah terhadap lingkungan dibandingkan dengan metode lain.

[Pernah saya posting di Arunals.Wordpress.com]

Mekanisme Pendorong Reservoir



Setiap reservoir minyak pasti memiliki mekanisme pendorong. Mekanisme pendorong reservoir didefinisikan sebagai tenaga yang dimiliki oleh reservoir secara alamiah, sehingga menyebabkan dapat mengalirnya fluida hidrokarbon dari formasi menuju ke lubang sumur dan selanjutnya ke permukaan pada saat produksi berlangsung. Sedangkan besarnya tenaga pendorong ini tergantung dari kondisi P dan T formasi dimana reservoir tersebut berada, dan pelepasan energinya dipengaruhi oleh proses dan sejarah produksi yang dilakukan.
Pada dasarnya ada empat sumber tenaga yang bekerja di reservoir, yaitu :
1.      Tenaga dorong eksternal / tekanan hidrostatik, yang biasanya berupa perembesan air (baik dari bawah maupun samping) dan pengembangan tudung gas.
2.      Tenaga penggerak internal, yang terjadi karena adanya pembebasan gas terlarut dalam cairan.
3.      Tenaga potensial, merupakan tenaga yang berasal dari formasi itu sendiri dan biasanya dipengaruhi oleh adanya gravitasi dan perbedaan kerapatan antara fluida formasi.
4.      Tenaga permukaan fluida, berasal dari gaya-gaya kapiler dalam pori-pori batuan.

[sebelum download, LIKE dulu blog nya ya]




selanjutnya download disini...

Mekanisme Pendesakan Fluida Tak Bercampur Dalam Media Berpori


Pada proses pendesakan minyak oleh air akan terdapat suatu zona transisi diantara keduanya. Zona tersebut mempunyai perubahan saturasi dari minyak dan air dengan jarak yang dipengaruhi oleh sifat fisik fluida dan batuan, serta tingkat percampuran (miscible) antara fluida injeksi dan fluida terinjeksi, seperti terlihat pada gambar 3.12., zona transisi mempunyai perubahan saturasi fluida dengan variasi 100% minyak sampai dengan 100% air.
Proses pendesakan oleh fluida yang membasahi akan efisien jika dibandingkan dengan proses pendesakan pada fluida yang tidak membasahi. Hal ini terjadi karena adanya efek tekanan kapiler, distribusi saturasi dibelakang front, zona transisi yang sempit dan saturasi fluida yang di injeksikan lebih sempit. Apabila fluida pendesak memiliki viskositas yang lebih besar daripada fluida di desak, dan perbedaan porositas yang tidak begitu besar, maka bidang front akan tampak lebih jelas.
[sebelum download LIKE dulu ya blog nya]


selanjutnya download disini...

Sunday, March 20, 2011

Improved Oil Recovery From Oil-Wet And Mixed-Wet Reservoirs By Gas Flooding Alternately With Water


The Department of Petroleum Engineering at Heriot-Watt University has been studying the water alternating gas (WAG) injection processes, using experimental (micromodels) and theoretical (network modelling) methods during the past 3 years.  Last year we presented to the IEA the results of the micromodel studies on water-wet systems.  This paper presents the results of the experiments on oil-wet and mixed-wet systems and compares them with those of the water-wet models. 
Many of the oil reservoirs are produced by waterflooding.  When the water-cut is too high, for further production to be economical, the field is usually abandoned.  At this stage a significant quantity of oil will still remain in the reservoir.  It is known that using the water-alternating-gas injection schemes, some of that oil can be produced.  Unfortunately, the underlying physics of the three-phase flow is not well understood to allow reliable predictions to be made for economic evaluation.   This recovery method will involve drainage and imbibition processes taking place sequentially.  Their three-phase relative permeability and capillary pressure functions are, therefore, extremely complex.  It is practically impossible to develop such functions for realistic reservoir situations, using core displacement methods.
The approach we have adopted is to develop a mathematical network simulator, which covers all the significant physical flow processes involved in this recovery method.  But to gain confidence that such a simulator can indeed reflect the physics of the flow realistically, we test it against the actual physical micromodel observations. If the predictions of the network simulator agree with those observed in the micromodel, we can then operate it with real reservoir fluid data and basic rock properties in 3-D, to calculate the required pore scale relative permeability functions.  Observations made in the micromodel studies have considerably improved our understanding of the underlying physical principles.  This knowledge is extremely valuable in formulation of the network model simulator. 

[LIKE this blog before you download]
selanjutnya download disini...

Pengenalan Tentang Hydraulic Fracturing


Peretakan hidrolik didefinisikan sebagai suatu cara untuk meningkatkan produktivitas lapisan penghasil hidrokarbon dengan jalan peretakan lapisan tersebut secara hidrolis. Untuk melakukan peretakan digunakan cairan peretak, yang dipompakan ke permukaan reservoir hingga melampaui batas kekuatan batuan.
Setelah terjadi retakan, pemompaan cairan hidrolik masih dilanjutkan, agar retakan yang terjadi bertambah lebar dan memanjang jauh ke dalam batuan. Untuk menghindari tertutupnya kembali retakan, sebagai tahap akhir, pada cairan peretak yang diinjeksikan ditambahkan material pengganjal (proppinq agent). Propping agent ini akan terbawa masuk ke dalam retakan dan akan mengisi seluruh bagian retakan. Bila pemompaan semua propping agent telah dipompakan ke dalam sumur pemompaan dihentikan.
Propping agent akan tetap berada didalam retakan, dengan demikian didalam retakan batuan terisi propping agent yang permeabilitasnya lebih baik dari pada permeablitas batuan formasi. Sebagai kriteria pemilihan sumur untuk distimulasi adalah sumur-sumur yang mempunyai “Damage Ratio” (DR) kecil Damage Ratio adalah perbandingan antara permeabilitas nyata terhadap permeabilitas aslinya. Permeabilitas absolut asli diperoleh dari data re, sedangkan permeabilitas nyata diperoleh dari uji tekanan dalam bentuk permeabilitas relatif.
Retakan yang dihasilkan dapat menembus zone yang rusak (damage zone) dan mungkin pula dapat menghubungkan daerah yang porous permeable dengan lubang sumur yang semula terhalang oleh suatu penghalang (barrier). Karena permeabilitas retakan lebih besar dari pada permeabilitas formasi, maka aliran fluida dari reservoir menuju ke lubang sumur menjadi lebih lancar.

[LIKE blog nya dulu ya sebelum download]

selanjutnya download disini...