Friday, May 29, 2009
Analisa Penilaian Formasi (analisa logging)
Pada prakteknya di lapangan tidak semua jenis log diatas dapat dilakukan. Hal ini mengingat biaya (cost) yang besar untuk tiap jenis log sehingga hanya digunakan beberapa jenis log tertentu dan kecenderungan untuk mengkombinasikan beberapa jenis log (combination log) dan ini yang biasa digunakan.
Beberapa analisa jenis log yang umum digunakan antara lain Analisa Spontaneous Potential (SP) Log, Analisa Log Induksi, dan Analisa Log Radioaktif yang terdiri dari Gamma Ray Log, Neutron Log, dan Formation Density Log.
-Analisa Sponteneous Potential Log (SP)
LogPada sumur yang mempunyai kandungan hidrokarbon perlu dilakukan logging dengan berbagai jenis alat log. Log tersebut dapat berupa Log Listrik, Log Radioaktif serta berbagai jenis log lainnya. tahap pertama dalam analisa log adalah mengenal lapisan permeable dan serpih yang non permeable. Log yang digunakan adalah Spontaneous Potential (SP) Log.Log SP merupakan rekaman perbedaan potensial listrik antara elektroda di permukaan yang tetap dengan elektroda yang terdapat di dalam lubang bor yang bergerak naik turun, pada sebuah lubang sumur yang terdiri dari lapisan permeable dan non permeable. Secara alamiah karena perbedaan kandungan garam air, arus listrik hanya dapat mengalir di sekeliling perbatasan formasi di dalam lubang bor. Pada lapisan serpih yang tidak terdapat aliran listrik, potensialnya adalah konstan dengan kata lain pembacaan log SP nya rata.
-Analisa Log Induksi
Log induksi digenakan untuk mendeteksi konduktivitas formasi yang selanjutnya dikonversi dalam satuan resistivity. Pengukuran dengan log induksi banyak menggunakan parameter dan korelasi grafik. Hal ini dimaksudkan untuk memperoleh hasil yang valid sehingga mempermudah analisa.
-Analisa Log Radioaktif
1. Gamma Ray Log
- Untuk membedakan lapisan-lapisa shale dan non shale pada sumur-sumur open hole atau cased hole dan juga pada kondisi ada lumpur maupun tidak.
- Sebagai pengganti SP Log untuk maksud-maksud pendeteksian lapisan permeable, karena untuk formasi yang tidak terlalu resistif hasil SP Log tidak terlalu akurat
- Untuk mengetahui korelasi batuan dan prosentase kandungan shale pada lapisan permeable- Mendeteksi mineral
-mineral radioaktif
- Menentukan kedalaman perforasi yang telah diinjeksi air (water plugging)
2. Neutron Log
- Untuk menentukan total porosity
- Mendeteksi adanya formasi gas setelah dikombinasikan dengan porosity tool lainnya seperti Density Log)
- Penentuan korelasi batuan
3. Formation Density Log
- Untuk mengukur porositas batuan
- Mengidentifikasi mineral batuan
- Mengevaluasi shally sand dan lithologi yang kompak
- Log ini juga dapat digunakan sebagai indikasi adanya gas
Gamma Ray Log merupakan rekaman tingkat radioaktivitas alami yang terjadi karena tiga unsur yaitu Uranium (U), Thorium (Th) dan Potasium (K) yang dipancarkan oleh batuan. Pemancaran yang terus menerus terdiri dari semburan pendek tenaga tinggi sinar gamma yang mampu menembus batuan sehingga dapat dideteksi oleh detektor.
Sinar gamma sangat efektif dalam membedakan lapisan permeable dan non permeable karena unsur-unsur radioaktif cenderung berpusat di dalam serpih yang non permeable dan tidak banyak terdapat dalam batuan karbonat atau pasir yang secara umum besifat permeable. Kadangkala lumpur bor mengandung sejumlah unsur Potasium karena zat Potassium Chloride ditambahkan kedalam lumpur untuk mencegah pembengkakan serpih. Radioaktivitas dari lumpur akan mempengaruhi pembacaan Log Gamma Ray berupa tingkatan latar belakang radiasi yang tinggi.
-Analisa Log Kombinasi
Log kombinasi diaplikasikan untuk semua junis log sebelumnya seperti Log Listrik, Log Induksi dan Log Radioaktif untuk mendapatkan kepastian jenis formasi beserta kandungan formasi tersebut.
Kombinasi log yang sering digunakan dua jenis log yaitu Log Listrik dan Log Radioaktif. Log Listrik yang dimaksudkan adalah SP Log dan Log Induksi untuk Short Normal Log. Sedangkan Log Radioaktif yang dimaksud adalah Gamma Ray (GR) Log, Neutron Log dan Formation Density Log (FDL). Dari analisa Log Kombinasi ini dapat ditentukan kandungan HC dari formasi pada interval kedalaman tertentu.
Interpretasi log dilakukan untuk mengetahui harga Rw dan Sw serta menentukan lithologi batuannya. Interpretasi ini dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu interpretasi kualitatif dan interpretasi kuantitatif. Interpretasi kualitatif meliputi penentuan lapisan permeable, penentuan batas lapisan dan penentuan zona interest. Log yang digunakan berupa SP Log, GR Log dan Resistivity Log. Sementara interpretasi kuantitatif meliputi penentuan porositas dan saturasi air (Sw). Jenis Log yang digunakan Neutron Log, Density Log, Sonic Log dan Resistivity Log. Adapun kondisi interpretasi yang dilakukan berupa Clean Formation (quick look) dan Shally Sand Formation (detailed).
Pengukuran dengan SP Log dilakukan untuk menentukan Vclay sehingga dapat diketahui jenis fluida yang terdapat dalam formasi yang dianalisa serta kandungan batuan dan kondisi dari kedalaman formasi tersebut.
Pada GR Log didapatkan suatu kurva yang menunjukkan besarnya intensits radioaktif yang ada dalam formasi. Dengan menarik garis GR yang mempunyai harga minimum dan harga maksimum pada penampang log maka kurva GR yang jatuh diantara kedua lapisan kurva tersebut merupakan indikasi adanya lapisan shale.
Pada Neutron Log, bila konsentrasi hidrogen didalam formasi besar maka semua partikel neutron akan mengalami penurunan energi serta tertangkap tidak jauh dari sumber radioaktifnya. Hal yang perlu digarisbawahi bahwa neuton hidrogen tidak mewakili porositas batuan karena penentuannya didasarkan pada konsentrasi hidrogen. Neutron tidak dapat membedakan antara atom hidrogen bebas dengan atom hidrogen yang secara kimia terikat dengan mineral batuan, akibatnya pada formasi lempung yang banyak mengandung atom-atom hidrogen didalam susunan molekulnya seolah-olah mempunyai porositas tinggi.
Faktor-faktor yang mempengaruhi bentuk kurva Neutron Log adalah shale atau clay dimana semakin besar konsentrasinya dalm lapisan permeable akan memperbesar harga porositas batuan. Kekompakan batuan juga akan mempengaruhi defleksi kurva Neutron Log dimana semakin kompak batuan tersebut maka harga porositas batuan akan menurun dan kandungan fluida yang ada dalam batuan apabila mengandung minyak dan gas maka akan mempunyai harga porositas yang relatif kecil, sedangkan air asin atau air tawar akan memberikan harga porositas neutron yang mendekati harga porositas sebenarnya.
Density Log menunjukkan besarnya densitas lapisan yang ditembus oleh lubang bor sehingga berhubungan dengan porositas batuan. Besar kecilnya density juga dipengaruhi oleh kekompakan batuan dengan derajat kekompakan yang variatif, dimana semakin kompak batuan maka porositas batuan tersebut akan semakin kecil. Pada batuan yang sangat kompak, harga porositasnya mendekati harga nol sehingga densitasnya mendekati densitas matrik.
Kombinasi Log digunakan untuk memperoleh data yang diperlukan untuk mengevaluasi formasi serta menentukan potential productivity yang dikandungnya. Pada kombinasi log antara Neutron Log dan Density Log maka akan terdapat tampilan Log Density yang dari kiri ke kanan satuannya semakin besar sedangkan Neutron Log dari kiri ke kanan satuan porositasnya semakin kecil sehingga dapat diinterpretasikan sebagai berikut :
1. Lapisan shale akan memberikan separasi negatif berdasar harga densitas yang besar pada Density Log dan harga porositas neutron yang besar pada Neutron Log.
2. Lapisan hidrokarbon akan memberikan separasi positif dimana kurva Density Log akan cenderung mempunyai defleksi ke kiri dan Neutron Log cenderung mempunyai defleksi ke kanan.
3. Lapisan air asin atau air tawar akan memberikan separasi positif sehingga untuk dapat membedakan antara separasi positif pada lapisan air dengan lapisan hidrokarbon maka jalan terbaik adalah dengan melihat kurva Resistivity Log dan SP Log.
Thursday, May 28, 2009
Analisa Penilaian Formasi (analisa cutting)
Wednesday, May 27, 2009
Analisa Penilaian Formasi (gambaran umum)
Kodifikasi Teknik Perminyakan
Kelas pertama, yaitu minyak bumi dan gas merupakan pilihan umum dikarenakan ruang lingkupnya yang lebih besar. Pada kelas ini dibagi lagi menjadi beberapa subkelas sebagai spesialisasi tiap individu berdasarkan bidang yang disenangi. Subkelas tersebut adalah bagian pengeboran (drilling engineer), bagian produksi (production engineer) dan bagian lapangan (field engineer). Pada perkembangan selanjutnya dikenal berbagai spesialisasi tertentu berdasar experience lapangan seperti Mud Logger, Driller, Tool Pusher, HF (Hydraulic Fracturing) Specialist serta beberapa skill yang berlicensi. Kelas kedua, berupa panasbumi (geothermal) sebenarnya hampir sama dengan kelas pertama, yang membedakannya adalah desain serta perencanaan yang didasarkan pada kondisi di geothermal yang mencapai ratusan bahkan ribuan derajat kelvin.Pada prinsipnya kedua kelas diatas bisa diibaratkan sebagai saudara sejalan, yang saling mengenal satu dengan lainnya. Jika anda mengambil kelas pertama, maka anda juga akan berkenalan dengan kelas kedua meskipun tidak begitu mendetail dan hanya sampai pada dasar-dasar pembelajaran umum, demikian juga sebaliknya.Seiring dengan perkembangan dunia perminyakan, setiap individu yang berkecimpung di dalamnya dituntut untuk bisa menguasai kedua bidang diatas, minimal secara teoritis. Meskipun kenyataan di lapangan bahwa teori "hanya" dipakai 10-15 %, tetapi minimal dapat memberikan jawaban jika ditanya mengenai prinsip-prinsip dasarnya. Diatas semua itu kembali lagi pada semangat untuk terus berkembang dan membuat inovasi baru di bidang apapun yang kita tekuni.
Monday, May 25, 2009
Econ 101 and Resource Depletion
At one time I probably had some respect for economists, sensing that they must have brilliant theories. I once took a macroeconomics class from Walter Heller, who served as an economic advisor to both Kennedy and Johnson. Heller would show up for the lectures and say something profound (I assume, I can't remember), but mostly TA's taught the class. One TA sketched out a long equation on the chalkboard, let us ponder over it for a few seconds, and then promptly erased it. He said something to the effect, "that is the last time you will see an equation". I don't know why, but that action had always bothered me; it seemed like a resignation to failure.
Recently someone on TOD pointed to a couple of short articles by Robert Nadeau concerning the origins of economic theory in the 19th century
Short article : Long article
Nadeau asserts that not only does the formation of classical economics rely on strange analogies to physics, but that the analogies that the early economists chose came out of physics theories that nobody had verified yet. They basically consisted of vague postulations on the balance of energy existing in the "ether", in other words not the concrete Newtonian stuff that everyone agreed on, but ideas of the more abstract mysterious origins of electrical or magnetic energy that started to gain traction around that time. And to top it off, many of the early economists had strong religious beliefs and thought god had something to do with the economy (i.e. the idea of the invisible hand). This all occurred slightly before physicists like Maxwell figured out the practical formulation that has served us well. I got from Nadeau that the only perturbation to the original ideas came by way of Keynes and others who allowed that we could subtly guide economies, and this provided a not-so-invisible hand.
So, the analytic battle exists on several fronts. We have an economic theory that went down the toilet last year. We have the quants on Wall Street who have basically made a mess of the situation and caused many people to distrust any math. We have chaos believers who immediately put up red flags warning that dangers lurk in any analysis. We have other mathematicians that blow smoke by creating impressive formalisms that show purity but lack any connection to practicality. And finally we have a somewhat MEGO public that can't get interested.
I stand by the side of using practical probability and statistics and don't get cowed by the nay-sayers that say we can't and will never understand any of this. A few days ago, I found a book in my stacks called "The Earth's Dynamic Systems" written by Hamblin in 1975. This guy had definite concerns about our resources and comes across as the opposite of a cornucopian, yet he did write the following:
We basically know the extent of our mineral resources and the rates of our consumption. It is not difficult to project how long they will last.So why is it that 30 years later, we still have no fundamental frameworks and argue over the reliability of heuristics such as HL? And still no one knows how much remains in SA reserve? Do we really believe that we can get by with back-of-the-envelope estimates alone? Yet as we look at our current predicament, a few valid theories of economics and of resource depletion dynamics certainly wouldn't have hurt.
Not online yet, but I found an interesting opinion piece in the latest Time magazine called "Excluding the Extremist" by Justin Fox. In the column he discusses the financial advice of Peter Schiff and others who don't toe the mainstream line.
"But there's a thriving line of academic research showing that including divergent opinions and models of how the world works makes groups better at solving problems"That puts it fairly succinctly and I still think a quantitative analysis when applied to resource depletion holds promise. Unfortunately, the financial quants have given the term quantitative a bad rap.
Justin Fox has a book coming out next month called "The Myth of the Rational Market".
Bicycling takes place in the context of constant near misses
http://www.guardian.co.uk/politics/2009/may/23/boris-cycling
Wednesday, May 13, 2009
ac milan

Klub ini didirikan pada tahun 1899 dengan nama Klub Kriket dan Sepak bola Milan (Milan Cricket and Football Club) oleh Alfred Edwards, seorang ekspatriat Inggris. Sebagai penghormatan terhadap asal-usulnya, Milan tetap menggunakan ejaan bahasa Inggris nama kotanya (Milan) daripada menggunakan ejaan bahasa Italia Milano.
Masa kejayaan Milan di era sepak bola modern adalah pada awal dekade 90-an ketika merajai Liga Italia di bawah asuhan Arrigo Sacchi, dan diteruskan oleh Fabio Capello. Puncaknya, Milan merebut trofi Liga Champions pada tahun 1994 dengan mengalahkan Barcelona di final. Sepeninggal Capello (yang menyeberang ke Spanyol untuk melatih Real Madrid), Milan terus menurun dan baru bisa meraih gelar juara Liga Italia pada musim kompetisi 1998/1999 di bawah asuhan pelatih Alberto Zaccheroni. kemudain digantikan oleh pelatih asal Turki, Fatih Terim. Karena surut gelar, kemudian diganti oleh mantan pemain Milan, Carlo Ancelotti. Ancelotti membawa Milan meraih gelar juara Liga Champions pada musim 2002/2003 ketika mengalahkan Juventus lewat drama adu pinalti di Manchester, Inggris. Milan terakhir kali meraih gelar prestisus dengan merebut juara Liga Italia pada musim kompetisi 2003/2004 sekaligus menempatkan penyerang Andriy Shevchenko sebagai pencetak gol terbanyak di Liga Italia.
Pada musim kompetisi Liga Italia Seri A 2006/2007, Milan terkait dengan skandal calciopoli yang mengakibatkan klub tersebut harus memulai kompetisi dengan pengurangan 8 poin. Meskipun begitu, publik Italia tetap berbangga karena di tengah rusaknya citra sepak bola Italia akibat calciopoli, Milan berhasil menjuarai kompetisi sepak bola yang paling bergengsi di dunia, Liga Champions. Hasil itu didapat setelah Milan menaklukkan Liverpool 2-1 lewat dua gol Filippo Inzaghi. Gelar inipun menuntskan dendam Milan yang kalah adu penalti dengan Liverpool dua tahun silam. Gelar pencetak gol terbanyakpun disabet pemain jenius Milan, Kaká dengan torehan 10 gol. Pada pertengahan musim, Milan mendatangkan mantan pemain terbaik dunia, Ronaldo dari Real Madrid untuk memperkuat armada penyerang mereka setelah penyerang muda Marco Borriello dihukum karena terbukti doping.
Pada musim 2007/2008, Milan akhirnya harus bermain di kompetisi Piala UEFA setelah hanya berhasil menduduki peringkat ke-5 dibawah Fiorentina dengan selisih 2 poin. Dalam pertandingan Serie A yang terakhir, AC Milan menang 4-1 atas Udinese, tapi di saat bersamaan, Fiorentina juga menang atas Torino dengan skor 1-0 yang akhirnya posisi kedua tim tak ada perubahan. Untuk memperbaiki performa di musim berikut (2008/2009), Milan membeli sejumlah pemain baru, di antaranya Mathieu Flamini dari Arsenal, serta Gianluca Zambrotta dan Ronaldinho yang keduanya berasal dari Barcelona. Pada transfer paruh musim 2008-2009, Milan mendatangkan David Beckham dengan status pinjaman dari klub sepakbola Amerika Serikat LA Galaxy.
PSMS Medan

Persatuan Sepak Bola Medan Sekitarnya atau biasa disingkat PSMS Medan adalah sebuah klub sepak bola Indonesia yang berbasis di Medan, Sumatra Utara. PSMS Medan saat ini bermain di Liga Super Indonesia Liga Indonesia.
PSMS Medan dirikan pada tanggal 21 April 1950. Meski demikian sejak tahun 1930 telah berdiri klub Medansche Voetbal Club (MSV) yang diyakini merupakan embrio PSMS. Sejak dahulu kota Medan dikenal dunia oleh karena perkebunan tembakau Delinya. Tak heran bahwasannya logo PSMS berupa "daun" dan "bunga tembakau Deli".
PSMS Medan dikenal dengan tipe permainan khas rap-rap yakni sepak bola yang berkarakter keras, cepat dan ngotot namun tetap bermain bersih menjunjung sportivitas. Inilah yang kerap ditunjukkan oleh tim berjuluk "Ayam Kinantan" ini.
Rekor Perserikatan
1954 - Runner-up, kalah dari Persija Jakarta
1957 - Runner-up, kalah dari PSM Ujungpandang (sekarang PSM Makassar)
1967 - Juara, mengalahkan Persebaya Surabaya
1971 - Juara, mengalahkan Persebaya Surabaya
1975 - Juara bersama, dengan Persija Jakarta
1983 - Juara, mengalahkan Persib Bandung
1985 - Juara, mengalahkan Persib Bandung
1992 - Runner-up, kalah dari PSM Ujungpandang
Rekor di Liga Indonesia
1994/1995 - Peringkat ke-9 Divisi Utama Wilayah Barat
1995/1996 - Peringkat ke-11 Divisi Utama Wilayah Barat
1996/1997 - Peringkat ke-10 Divisi Utama Wilayah Tengah
1997/1998 - Peringkat ke-1 Divisi Utama Wilayah Tengah (Liga dihentikan)
1998/1999 - Semifinalis Divisi Utama ( Juara Grup A, Peringkat ke-2 Grup Q Babak 10 Besar)
1999/2000 - Babak 8 Besar Divisi Utama (Peringkat ke-4 Wilayah Barat)
2001 - Semifinalis Divisi Utama (Juara Wilayah Barat, Juara Grup Barat Babak 8 Besar)
2002 - Peringkat ke-11 Divisi Utama (Degradasi)
2003 - Divisi Satu, Peringkat ke-2 (Juara Grup A)
2004 - Peringkat ke-7 Divisi Utama
2005 - Peringkat ke-4 Divisi Utama (Peringkat ke-4 Wilayah Barat, Peringkat ke-2 Grup Timur Babak 8 Besar)
2006 - Peringkat ke-5 Wilayah Satu
2007 - Runner-up
Gelar lain
2005 - Juara ke-4 Copa Dji Sam Soe
2005 - Juara Pertama Piala Emas Bang Yos II (14 Februari 2005), di final mengalahkan tim asal Singapura Geylang United FC dengan skor 5-1.
2005 - Juara Pertama Piala Emas Bang Yos III (17 Desember 2005), di final mengalahkan Persik Kediri dengan skor 2-1.
2006 - Juara Pertama Piala Emas Bang Yos IV(16 Desember 2006), di final mengalahkan PSIS Semarang dengan skor 4-2 (1-1) melalui drama adu pinalti dan PSMS Medan dinobatkan sebagai pemilik abadi Piala Emas Bang Yos.
Pelatih
2000-2002 Suimin Diharja
2002-2002 Parlin Siagian dipecat 15 Februari 2002
2002-2003 Abdul Rahman Gurning
2003-2003 H. Nobon Kayamuddin
2003-2005 Sutan Harhara diangkat November 2003 dan mengundurkan diri 25 Juli 2005
2005-2006 M. Chaidir dipecat dua hari setelah partai tandang PSMS dikalahkan oleh Persitara yang kemudian digantikan oleh asisten pelatihnya, Rudi Saari
2006-2008 Fredy Mulli sekarang kembali melatih Persebaya
2008 Iwan Setiawan pelatih muda berlisensi A plus Indonesia Super Liga, sebelumnya melatih Persibom 2008
Coach
Head Coach: Eric Williams (, Timnas U-16 Indonesia)
Assistant Coach: Rudi Saari (, PSMS)
Head Coach Medan United Academy: Eric William (Timnas U-16 Indonesia)
Goalkeeper Coach: Mardianto (, PSMS)
Physical Coach: Ardi Nusri (, PSMS)
Public Speaker: Sarluhut Napitupulu (, PSMS)